Selasa, 15 Juli 2008

Kamar Penuh Kebahagiaan





Ini hanyalah cerita mengenai salah satu kamar kos yang pernah kutinggali selama aku merantau di kota Gudeg sejak meninggalkan kampung halamanku pada tahun 2002. Di usia ku yang baru mencapai 17 tahun 0 bulan 11 hari aku harus menerima kenyataan diterima di kampus biru. Hari itu, 31 agustus 2002 petualanganku merantau untuk membangun diri demi masa depan yang cerah pun dimulai. Dan hingga kepergianku dari kota pelajar dan budaya itu, 20 Desember 2007, aku telah 5 kali pindah kos. Sudah serupa dengan induk kucing yang berpindah-pindah tempat setelah melahirkan anak-anaknya. Bukan apa-apa....hanya saja aku suka berganti suasana, mumpung masih muda. Mengenal beragam karakter manusia secara langsung dengan terlibat hidup satu atap bersama mereka ternyata mengasyikkan. Itulah yang membuatku rela bercapai-capai ria pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Semua tempat yang pernah kujadikan tempat tinggal sementara itu ada di lingkungan kampus biru. Dari Samirono, Karangmalang, Karanggayam, Gejayan, dan terakhir Klebengan. Tulisan ini akan membahas kamar kosku di tempat terakhir yang kusebut.

Berawal dari kawan baik yang kukenal sejak kelas 1 SMP yang berlanjut akrab di tahun terakhir SMA, berniat melanjutkan kuliah S2 di kampus biru. Sebelumnya, sejak lahir hingga berusia 22 tahun dihabiskannya waktu di sebuah kota yang menjadi pusat peradaban bagi wilayah Jawa Tengah bagian barat daya. Friska namanya. Nama yang menurutnya sangat bagus, namun ku tak tahu artinya selain tahu Friska adalah nama seorang dokter perawan tua yang galak dalam novel karangan Mira W. Aku tak ingat judulnya, namun si tokoh Friska itu akhirnya menikah dengan ayah dari mahasiswanya, seorang pengusaha, duda beranak banyak yang semuanya memiliki masalah. Semoga saja nasib kawanku ini jauh lebih baik daripada nasib si tokoh rekaan yang sewaktu masih menjadi cerita bersambung di sebuah—entah koran entah majalah—berjudul dokter nona Friska.

Kembali ke kisah kamar itu. Singkat kata, Friska mengajakku tinggal sekamar dengannya. Syarat yang diajukan kawan tak tahu diri itu sangat banyak. Intinya ialah dekat warung! Baik itu warung fotocopy, warung internet dan, tentu saja, warung makan. Itu pun masih ditambah embel-embel bersih serta dekat dengan kampusnya dan kampus tempatku mengabdi kepada almamater sebagai seorang asisten akademik. Tak mudah mencari lokasi yang perfeksionis seperti itu. Di bawah teriknya mentari Yogyakarta yang dengan senang hati membakar kulit siapa saja yang keluyuran pada siang hari mulailah aku mencari kos, door to door. Akhirnya setelah berhari-hari mencari dan bersahabat dengan rasa lelah, kos idaman pun didapat. 
 
Lokasinya dikelilingi oleh warung-warung sesuai keinginan kawanku. Namanya penuh makna Wisma Widya Rahayu, letaknya di Jalan Apokat, Klebengan, Depok, Sleman 55281. Untunglah namanya bukan Wisma Willow, karena kalau tak salah ingat itu adalah nama wisma wanita-wanita penghibur dalam sebuah film Hongkong yang pernah kutonton beberapa tahun lalu.

Terletak jauh dari ibukota kos-kosan—yang biasanya ditandai dengan adanya tivi di tempat itu—bahkan hampir di ujung lorong, kamar idaman itu merupakan kamar yang paling luas diantara 19 kamar yang ada. Nomor kamar itu 18, tanggal yang sama dengan tanggal lahir Friska yang berselang 3 hari setelah hari ulangtahunku. Dengan ukuran yang hampir 4X5 meter plus kamar mandi di dalamnya, itu menjadi kamar termewah dan terluas yang pernah kutempati sejak melanglang buana. Kakung, demikian pengelola kos biasa dipanggil, memberi banderol harga 3,6 juta per tahun di luar uang listrik bagi kami berdua. Syukurlah beliau baik, karena uang sebanyak itu bisa dicicil per 6 bulan.

Singkat kata, awal agustus 2007 aku pun pindah dari kos lamaku dengan menyisakan tangis dari seorang kawan yang ingin tetap sekos denganku. Bukannya aku mengesampingkan kawan itu dan memilih pindah, namun aku merasa, aku memang harus pindah mengikuti kata hatiku. Friska sendiri baru menempati kamar itu sepenuhnya pada akhir Agustus. Dimulailah episode kehidupan kami yang olehnya diberi judul “akhir tahun 2007 yang takkan terlupakan”. Entah darimana dia memiliki inspirasi mengenai judul mengerikan itu. Aku sungguh angkat bahu.

Banyak yang mengatakan bahwa persahabatan justru bisa rusak apabila kedua belah pihak telah merasakan tinggal satu atap. Contoh konkret pun telah kulihat dengan mata kepalaku sendiri di salah satu kos yang pernah kutempati. Namun rupanya, hal ini tidak berlaku bagi kami. Justru persahabatan yang telah ada kian kokoh setelah kami berbagi suka duka di kamar itu. 
 
Roti bakar dan Gery Chocolatos adalah camilan mewah yang dapat kami nikmati karena terbatasnya uang yang kami miliki. Tinggal di kos bagus dengan iuran listrik yang mencekik leher membuat kami harus extra pintar mengatur keuangan. Dengan membawa laptop, televisi, tape, kipas angin, magic com, kami harus membayar hampir 100 ribu per bulan! Untuk meringankan biaya, kipas angin serta tape 
dicoret dari daftar kamar. Karena Friska tidak suka mendengarkan musik, apalagi memakai kipas angin. Itu pun kami masih harus membayar uang listrik sebesar 65 ribu sebulan!Namun, apa lacur. Kami berdua sangat menyukai kamar no 18 itu yang dikemudian hari berubah nama menjadi “kamar penuh kebahagiaan.” Karena tiada hari berlalu tanpa canda tawa riang gembira kami.

Mungkin terasa janggal dan hiperbol bagi yang mendengar nama kamar yang hanya sempat kutempati selama 4 bulan itu. Namun atmosfir selama catur wulan itu kurasa sangat menyenangkan. Dimulai dari aktivitas di pagi hari, setelah salat subuh ialah menonton berita olahraga yang dimulai dari lativi jam 5.30, sport trans7 jam 6, hingga lensa olahraga jam 6.30. Setelah itu hingga sore hari kami sibuk dengan aktifitas kami masing-masing. Friska kuliah S2 sedangkan aku mencoba menjadi dosen. Kami baru bertemu lagi pada sore hari dilanjutkan dengan shalat maghrib berjamah dengan imam bergantian. Setelah itu makan malam bersama di meja makan sambil bertukar cerita mengenai kehidupan kami di sepanjang hari itu. 
 
Dua bulan pertama, hingga setelah lebaran 1418 H, kami masih rutin memasak setiap hari dan berbelanja di Pasar Gejayan seminggu 2 x. Karena kami memang hobi makan enak, maka belanjaan kami pun selalu penuh gizi. seperti Ayam, Ampela, Ikan hingga Udang. Namun seiring kesibukan yang meningkat, kami tak lagi rutin belanja dan memasak. Hanya saja, makan malam berdua di meja makan masih tetap kami lakukan. Sesuatu yang hingga kini, setelah aku berjarak 500 Km darisana masih selalu kurindukan. Setelah itu Friska akan belajar dan aku membuka laptop untuk mendengarkan musik sambil sesekali belajar atau melakukan hal-hal tak penting seperti membaca komik dan menonton film. Terkadang sebelum belajar, kami menyempatkan waktu selama 1 jam untuk belajar bahasa Inggris. Menghafal vocab lebih tepatnya lagi. Bagi Friska yang supersibuk sehingga harus mencuci pada malam hari, menjemur adalah hal yang mengerikan. Karena tempat jemuran yang terletak di lantai 3. Namun dengan setia aku selalu menemaninya menjemur pakaian sambil menikmati hawa Klebengan yang lekat dengan nuansa kehidupan mahasiswa.

Komik, serial singkek, dan sepakbola. Ketiga hal yang sangat berbau budaya pop itu adalah pemersatu kami. Kami bisa akrab, berawal dari kesamaan hobi. Selain faktor sifat yang saling bertolak belakang namun bisa selaras. Misalnya Friska yang Miss Panic dan sangat Care sedang aku Miss Nyante dan cuek. Kami akan betah mengobrol berjam-jam membahas cerita-cerita komik dan serial maupun kehebatan-kehebatan pemain-pemain tampan nan menawan berlaga di lapangan hijau. Bahkan aku pernah kalah taruhan saat harus menyebutkan nama aktris Jepang yang berperan sebagai ibuguru dalam serial Gokusen. Alhasil aku pun harus membelikannya Silverqueen. Pernah juga salah seorang sahabat kami yang datang menginap jadi merinding karena sebelum tidur aku dan Friska main tebak-tebakan yang tak lain dan tak bukan topiknya mengenai serial-serial Asia Timur :-)

Hari terakhir bulan November 2007 aku dinyatakan diterima di sebuah instansi pemerintah. Dari semula hanya iseng mencoba melamar formasi cpns, namun takdir berkata lain. Per 2 Januari 2008 aku harus menempati kantor baru di Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Hari-hari indah pun tinggal menghitung hari. Hingga kini, kami masih selalu berkirim sms setiap waktu untuk saling bertukar kabar mengenai pemain bola, serial-serial hingga film hollywood. Sore tadi waktu kami bertukar informasi mengenai kabar para pemain bola dan film atonement, ia berseloroh bahwa dirinya adalah belahan jiwaku selama aku belum bertemu jodohku--yang parahnya, hingga usiaku menjelang 23 tahun ini belum ada tanda-tanda akan muncul. Ini membuatku bertekad akan menjewer kuping suamiku, sesaat setelah malam pernikahan karena membuatku terlalu lama menunggu. Hahahaha

Banyak hal lain mengenai kenangan itu yang ingin kutulis. Namun, sang kala terus saja bergerak tanpa sempat berkenalan dengan kata lelah. Tak terasa sudah dini hari, di suatu sudut kota Jakarta pun mulai sepi tapi di laptopku, Katon Bagaskara masih menyanyi lagu Yogyakarta.....

Kamis, 05 Juni 2008

Hot...hot...hot



25 Oktober 2007
Lama banget ngak nulis. Seperti biasa lagi nunggu siang sambil dengerin lagu-lagu singkek. Hahaha bebas rasanya dengerin lagu2 ini. Kalo di kos-kos yang lalu pasti diomelin temen2 kosku karna sleraku yang suka dengerin lagu-lagu Korea, Jepang, Mandarin. Sejak kos sekamar sama Friska aku bahagia karena dia juga sealiran sama aku. Pecinta serial Asia Timur.
Mau komentar tentang serial Hotelier yang baru aku tonton ulang beberapa waktu yang lalu. Ceritanya bagus lah. Dulu aku suka waktu jaman awal-awal kuliah semester 1. Jadi pengen punya suami perpaduan Han Tae Jun sama Frank Shin. Hihih ga mungkin kali ya. Yang satunya pria ramah dan menyenangkan yang satunya pria kesepian menyebalkan. Tapi harus aku akui jalan ceritanya yang bervariasi gak bikin boring. Udah gitu, karakter yang dimainkan para pemainnya kuat-kuat. Ceritanya mengelir gitu aja, n ga banyak adegan yang ga penting yang bikin bosen. Akhirnya asyik. Akhir yang bahagia bagi semua. Gak norak lagi....ouwyahhh OST bagus2....

lagi melo ceritanya.....



Sabtu, 30 Juni 2007 11:51 pm
Sudah seminggu aku di rumah. senang rasanya apalagi banyak saudara datang. Tanggal 28 Juni kemaren mbak ningrum, sepupuku, menikah sama mas Sinung, dosen pembimbinnya. Oiya, mas Roni, Kakak mbak Ningrum, pulang dai Amerika. Mbak Ningsih, sepupuku, juga pulang dari Manado sama suaminya.Walau obrolan kita sudah nggak kayak dulu tapi aku seneng. Tak terasa 6 tahun sudah akuw n mbak Ningsih nggak saling ketemu, semenjak Budhe Adhi(Ibu Mbak Ningsih, Kakaknya mamaku) meninggal dan mbak Ningsih pergi ke Manado. Mbak Ningsih kurus banget!!!nggak kayak aku yang makin hari makin nggak karuan beratnya. Pokoknya kemaren seneng banget deh. Entah kapan semuanya akan terulang kembali? Masa-masa kita kecil, besar bersama, melalui masa remaja bercerita tentang cowok-cowok sudah berakhir. Inilah hidup.....terus berjalan meninggalkan puing-puing kenangan yang hanya bisa diingat.
aku habis baca candy2 setelah mungkin SMA aku terakhir baca komik favoritku itu. Lagi-lagi aku nangis, pas bagian Anthony Brown meninggal, Stea meninggal n saat Archiebolt memainkan bagpipe untuk mengenang kakaknya dan anthony. sekarang kalo ingat itu pun aku mau nangis. Apalagi aku lagi dengerin lagu "bogoshipda" OST Stairway to heaven. Candy, kisah yang menarik. alurnya mengalir baik, karakter tokoh-tokohnya kuat, pesan yang terkandung alam dan akhir yang mengesankan.Sedari dulu aku menyukai komik ini. aku pengen punya DVD nya. kira-kira di jogja ada nggak ya?

Miss You my Sister



Senin, 25 Juni 2007 (1.46 pm)
Cihuy...aku, mita, upi lagi makan siang di Buntos's Chicken!! seneng ya kalo sodara saling akur gini. Saling menghibur, bersama-sama dalam suka dan duka. Ayoooo upi baca apa ya? Hayooo ngintip!!!!upi lagi makan es krim lho. MitA lagi makan steak. Aku udah slese makan walo gak kenyang.hehehehehe....pokoknya gak sia-sia deh, aku kehilangan duit buat nraktir mereka. Yang penting kita bahagia, ya kan??? Sebisa mungkin keluarga adalah segala-galanya. Yup, I Love my family....Jadi semangat lagi nulis diari lagi. Setiap waktu aku jadi bisa menulis kegiatan yang aku lakukan.